Para Ayah, Sudahkah Menjadi Guru untuk Anakmu?

Para Ayah, Sudahkah Menjadi Guru untuk Anakmu?

Para Ayah, Sudahkah Menjadi Guru untuk Anakmu?
Para Ayah, Sudahkah Menjadi Guru untuk Anakmu?

Ayah adalah sosok teladan bagiku. Ia senantiasa menjadi inspirasiku dalam mengarungi kehidupan ini. Ayah dan emak telah memberikan segalanya buat kami, tujuh anaknya.

Masih segar dalam ingatanku bagaimana cara ayah membahagiakan anak-anaknya. Waktu itu kondisi ekonomi kami sangat sederhana. Gaji ayah sebagai PNS sangat pas-pasan, bahkan terasa kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk biaya sekolah kami bertujuh. Sehari-hari kami makan apa adanya. Jarang sekali makan daging ayam atau daging sapi, kecuali ketika lebaran atau ada hajatan.

Namun ayah punya cara unik yang selalu kami kenang. Setiap ayah menerima gaji di awal bulan, satu-dua orang anak-anaknya diajak makan ke restoran di kota dan beli baju atau sepatu baru. Sehingga bagi kami semua, saat ayah gajian adalah momen yang sangat dinanti.

Selain itu, cara ayah mengajar dan mendidik kami juga sangat membekas dalam hatiku. Suatu hari ayah pulang dari kantor membawa sekantong jeruk. Sebelum dimakan, ayah meminta kami menghitung semua jeruk itu. Lalu ayah mengambil beberapa jeruk dan memasukkannya ke dalam mangkok.

“Dua jeruk ditambah tiga jeruk berapa?” tanya ayah.

“Lima…, ” kami menjawab serempak.

Kemudian ayah mengambil 14 jeruk lalu dikuranginya 4. “Berapa hasilnya?” tanya ayah.

“Sepuluh…,” jawab kami girang.

Begitulah cara ayah mengajarkan matematika dengan menyenangkan kepada kami. Demikian juga cara yang ia terapkan ketika mengajar di sekolah pada sore hari sepulang dari kantor. Ayah lebih fokus mengajar matematika karena menurutnya matematika adalah kunci untuk membuka ilmu-ilmu lainnya. Dengan metode sederhana dan menyenangkan, ayah berhasil membuat aku dan saudara-saudaraku mencintai matematika. Ayah juga sangat menekankan pendidikan agama kepada kami, sebagai bekal agar kami bisa selamat di dunia dan akhirat kelak.

Kini, cara ayah mengajarkan matematika, aku terapkan juga pada buah hatiku. Ketika bermain atau mengajaknya jalan-jalan, kuselipkan ilmu berhitung padanya. Alhamdulillah, si kecil sudah menampakkan ketertarikan pada matematika. Bahkan di usianya yang  baru 5 tahun ini, dia telah mengkhatamkan buku matematika kelas 1 SD dengan nilai tes mendekati sempurna. Mudah-mudahan dengan mencintai matematika disertai ilmu agama yang akan kutanamkan padanya, ia semakin tertantang untuk mereguk pesona ilmu pengetahuan lainnya sebagai bekal kesuksesannya di dunia dan akhirat.

 

Sumber: http://www.ummi-online.com/para-ayah-sudahkah-menjadi-guru-untuk-anakmu.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *